Menggapai Atap Sumatera.

00.51.00

 “A journey of a thousand miles must begin with a singel step...”  - Lao Tzu.

Qoute ini lah yang membuat saya harus mengambil satu langkah maju agar bisa melanjutkan langkah selanjutnya, karena selamanya seseorang tidak akan maju dan hanya berdiam diri ditempat dimana dia berdiri jika dia tidak memulai sebuah langkah yang dapat merubah kehidupannya.

The Beginning...

Awalnya gak pernah terpikir dibenak saya untuk mendaki sebuah gunung, menjelajahi hutan, melintasi danau dengan perahu, berjalan kaki mengitari landmark kota yang baru dikunjungi, masuk kedalam goa, berburu kuliner khas daerah, dan berpapasan serta saling sapa dengan penduduk lokal, apalagi perjalanan tersebut dilakukan seorang diri dengan status mahasiswa, seorang anak kosan yang jauh dari orang tua, dana terbatas, apalagi buta arah karena gak pernah berpergian sendirian keluar kota, provinsi, apalagi ke luar negeri. Mengingat itu semua terasa mustahil dilakukan.

Akan tetapi pikiran “mustahil” itu perlahan mulai hilang pada saat saya melihat DP BBM (Display Picture BlackBerry Messenger) adik tingkat di kampus dan juga adik tingkat di organisasi pers kampus LPM Media Sriwijaya FH Unsri, yakni @lutfianadamay. Tiba-tiba pada suatu malam disekitaran pertengahan tahun 2013 dia mengganti DP BBM-nya dengan foto duduk dipinggir kawah sebuah gunung sambil tersenyum puas, dan status BBM-nya saat itu “Mt . Dempo. 3108 mdlp sukses...!”, langsung saya kepo-in  dia dengan banyak pertanyaanya “kok bisa? Bagaimana caranya? Kapan ngedakinya? Bagaimana perjalanannya? Sulit nggak? Kamukan cewek? Kok berani?...”. Penasaran...! itulah yang sedang saya pikirkan saat itu. Pertanyaan-pertanyaan itu dijawabnya via BBM, tapi kenapa rasanya masih kurang penjelasannya. Akhirnya kami bertemu di Kampus dan dia cerita panjang lebar mengenai pendakiannya yang menempuh jalur curam dan licin, serta diterpa hujan badai di tengan perjalanan, dia mengalami hypotermia pada malam hari di shelter 3, hampir jatuh dan gak kuat lagi menuju kepuncak, dan akhirnya dia berhasil mencapai puncak dan airmatanya jatuh sendiri saking bahagia karena berhasil melewati itu semua, dan pengalaman luar biasa yang didapatkannya selama mendaki. Mendengar itu semua membuat saya bersemangat! Hal-hal mustahil yang ada dibenak saya terasa hilang dan niat untuk memulai langkah maju itupun sudah kuat.

Niat untuk berpetualang itu sendiri terus berkobar meskipun rencana untuk pendakian itu belum teralisasikan sampai menjelang akhir dari tahun 2013, namun harus tetap semangat!, dan hal yang saya lakukan sembari menanti waktu yang tepat untuk memulai petualangan adalah menabung. Yaah... sedikit demi sedikit modal buat berpetualang mulai terkumpul, mulai dari menyisihkan uang kosan, menyimpan uang jajan yang didapat saat menjadi wartawan mahasiswa tribun sumsel edisi minggu, karena selain menjadi mahasiswa, saya juga ada sambilan diluar kegiatan kampus, hehehe itung-itung mengisi waktu luang sambil menyalurkan hobi. Dan tentunya mulai melatih fisik dengan memulai joging seminggu sekali, karena udah jarang banget olahraga, lari 50 meter aja udah ngos-ngosan kayak paru-paru mau lepas, yang saya ingat terakhir kali olahraga itu waktu kelas 3 SMA pas pelajar Penjaskes. 

Akhirnya kesempatan untuk melaksanakan niat berpetualang itu datang juga. Berawal dari postingan bang @faddlyv di Instagram  mengenai info penjelajahan gunung Kerinci yang diadakan oleh @JelajahKerinci pada pertengahan bulan April 2014. Huwooo...! saya langsung excited luar biasa, apalagi pas buka instagramnya @jelajahkerinci banyak banget keindahan ciptaan tuhan yang berhasil diabadikan dalam bentuk foto, keren banget...!.  Saya putuskan langsung cepet-cepet daftarin diri dalam penjelajahan tersebut, dan ow-ow-ow... ternyata dibuka hanya untuk 10 orang dan kebetulan pas saya daftar kuotanya tinggal 2 orang. Untuk biaya registrasinya sendiri Rp. 950.000,- sebenernya untuk anak kosan yang masih mahasiswa itu mahal loh kwkwkw,  itu udah termasuk penjemputan dari Padang ke Kersik Tuo lokasi dimana gunung Kerinci berdiri kokoh, makan 3x sehari selama 3 hari, penyewaan tenda dan perlengkapan untuk diatas gunung (kebetulan banget saya masih newbie yang gak punya dan gak ngerti tentang alat-alat atau apa saja yang mesti dipersiapin untuk bertahan diatas gunung), dan dapet kaos juga. Eiittsss..! saya tanya ke @jelajahkerinci “bang gimana kalo saya gak ke Padang, soalnya saya di Palembang, jadi rencananya mau lewat Jambi aja gitu...” , dan katanya @jelajahkerinci gak apa, kebetulan ada dua orang cewek dari Bandung yang mendaratnya di Jambi, jadi ketemuan aja disana biar bisa berangkat bareng, dan kalo yang dari Jambil biayanya dipotong Rp. 200.000, soalnya biaya tersebut untuk penjemputan dari Padang ke Kersik Tuo. Asiiiiiik....! teriak dalam hati hahaha! Setidaknya biaya pendaftaran udah berkurang jadi Rp.750.000. Lumayan hehehe.. trus dijelasin lagi sama @jelajahkerinci bahwa biaya pendaftarannya bisa dicicil, yuhuuuu..! tambah bersemu-semu nih muka. Okesip jadi daftarnya...!

The Journey Begins...

Setelah prepare apa aja yang perlu dibawa untuk petualangan... aku siap aku siap aku siap...! *spongebob mode on*. Berkumpulnya para peserta penjelajahan kerinci pada tanggal 17 April 2014, tapi saya mikirnya karena dari Palembang melalui jalur darat dan yang pasti memakan waktu yang lama, ditambah lagi gak tau arah dan seluk beluk kota.. woke..! modal nekad aja deh. Jadi saya putusin berangkat tanggal 15 dari Palembang.

Sebelum memilih-milih bus antar provinsi mana yang bakalan dipilih, saya searching dulu di google dan baca-baca pengalaman orang-orang yang sudah mendaki kerinci dan tentunya menuliskan pengalaman tersebut di blognya. Setelah menimbang-nimbang berdasarkan cerita orang-orang diblog yang menuju kerinci lewat jalur darat dari Palembang, maka bus yang terpilih adalah bus IMI (Indonesia Mulia Indah), yang kalo dilihat tarif dari Palembang Ke Jambi termasuk yang paling murah, untuk bus yang ada AC-nya bertarif Rp.75.000, oke langsung dipilih. Let’s go...!

Bus pun melaju tapi dengan kecepatan yang standar, menembus macet, hujan, keluar masuk hutan, dan yang saya lakukan adalah duduk manis di bus sambil senderen di kaca bus dan dengerin lagu lewat headset *kebetulan duduk dipinggir*, maenin gadget, sesekali ketiduran, dan pas bangun udah didaerah lain yang terasa asing, tapi perjalanan itu saya nikmatin. Dan akhirnya saya sampai di pemberhentian bus terakhir di Jambi. Yang tadinya berangkat dari Palembang pukul 15an, tiba di Jambi pukul 23an.. tengah malam keleuss.. dan hujan..! tapi untungnya ditempat pemberhentian bus IMI di Jambi ini lantai duanya ada tempat beristirahan buat para penumpangnya, meskipun berasalankan tiker, gak apa deh yang penting malam ini ada tempat buat berteduh dan istirahat. *lirik colokan kosong di dinding*... langsung berlari kecil ke dekat colokan, rasanya kalo ketemu colokan listrik yang kosong itu selalu bahagia, jadi gadget yang udah tewas ditengah perjalan bisa dihidupkan kembali. Saya bisa dibilang gadget freak, soalnya itu sudah menjadi bagian dari hidup, menjadi kebutuhan primer deh pokoknya.

17 April 2014, saya terbangun jam 8 pagi, dan ketika lihat area sekitar ternyata tinggal saya sendiri di lantai dua ini, trus saya langsung mengecek ransel dan isinya, syukurlah! gak ada yang hilang.. hehehe waspada itu selalu nomor satu. 

Cuaca cerah banget...! setelah ngumpulin nyawa seusai bangun tidur, nanya sama kakak-kakak yang jaga tempat pemberhentian bus dimana toilet, trus nanya juga arah Bandara di Jambi dimananya, trus kalo naek angkot jurusan apa dan tarifnya berapa, jadi kayak wawancara kakak-kakak tersebut deh. Seusai numpang mandi dengan baiya Rp. 5000,- zzz gak apa deh, yang penting mandi dulu!. oke saya siap..! sebelum berangkat aku sms dua anak cewek yang dari bandung, katanya mereka berangkat dari Jakarta dan tiba di Jambil sekitar pukul 13an. *lirik jam di Hp* hmm.. masih pukul 10:30, oke siap-siap otw bandara dengan naik ojek, tapi sebelum naik nego harga dulu, soalnya tukang ojeknya ngasih tarif 30ribu, setelah terjadi perdebatan antara saya dan tukang ojek dan tak lupa pasang wajah memelas, akhirnya tarifnya turun jadi 15ribu... aseeek!.

Rasanya kalo keliling kota naik ojek itu bener-bener nikmat, apalagi Jambi belum padat banget kendaraannya, jadi anginnya yang menerpah muka bikin seger soalnya belum terkontaminasi gas kendaraan yang berpolusi.

Sesampainya di Bandara di Kota Jambi, sekitaran pukul 13an, saya lihat di pintu kedatang belum ada tanda-tanda kehadiran mereka, saya kirim sms ke mereka dan ternyata jadwal keberangkatannya diubah pukul 16:10 tiba di jambi 17:25.. jleeeeeb..! apa yang harus saya lakukan sembari menunggu mereka, jadi saya pilih ke musolah bandara, numpang istirahat dan cari colokan nganggur. Setelah hampir 8 jam menunggu, merekapun datang juga. Loh bukannya ada dua cewek dari Bandung, tapi kenapa jadi yang satunya cowok, hmm.. setelah dijelasin ternyata cewek yang satunya gak jadi berangkat karena ada ujian kuliah.. setelah berkenalan dengan mereka, masayu dan irfan (katanya panggil aja om serangga kwkwkw), kami bertiga lanjut menuju Kerinci, kebetulan travelnya juga udah dipesan kemaren, jadi ketemuan di bandara pukul 17:30.

Here We Go...!

 
Setelah menempuh perjalanan 13 jam dari kota Jambi ke Kerinci, akhirnya kami sampai di Sungai Penuh, tempat berhenti travel tersebut, kami pun melanjutkan menuju Kersik Tuo, desa terakhir menuju gunung Kerinci dengan menaiki angkot, dan akhirnya sampe juga di Basecamp Jelajah kerinci, sorenya kami berkeliling desa Kersik Tuo, meskipun gunung kerincinya ketutupan kabut yah gak apa deh.. mau foto di tugu macan hehehe, setelah puas keliling, sorenya kembali ke Basecamp, di Basecamp ini banyak para pendaki dari seluruh Indonesia yang bertamu hampir setiap hari, dan disini kita bisa numpang berisitirahat gratis, ada banyak colokan listrik, dan ada warungnya, enaknya disini orangnya ramah banget. Setelah berbincang dengan para pendaki lain mereka semua terkejut setelah saya bilang baru pertama kali naik gunung, mereka langsung salut karena niat saya yang kuat dan langsung memilih mendaki gunung berapi tertinggi di Indonesia. Aaah saya jadi malu hehehe.. saya bertemu dengan Pak Kris dan Bu Kris, suami istri yang sudah banyak mendaki gunung di Indonesia, mbah Andi orang kerinci yang ramah banget, mas yuda, mas sugi dan genknya merupakan porter dan tau medan pendakian, ngerumpi bareng ibu basecamp yang selalu ada didapur, dan disini saya dapet label “cabe-cabean” hehehe.. entahlah kenapa bilang kayak gitu tapi bagiku itu sesuatu yang seru banget deh, anggap saja itu kode sandi waktu di gunung Kerinci. Malam semakin larut di lereng gunung Kerinci, saya pun izin untuk istirahat biar tenaga pulih kembali.

18 April 2014, setelah beristirahat yang cukup di Basecamp, hari ini kami akan mendaki...! yeeee..! pendakian dimulai dari pukul 8 pagi, tiba gerbang masuk gunung kerinci cuaca cerah banget, kami berjalan santai sambil beriringan dan saling menjaga, setelah tiba di pos pertama, semuanya beristirahat sejenak, kemudian melanjutkan perjalanan menuju pos dua dan pos tiga, pada saat perjalanan dari pos tiga ke shelter 1, hutan mulai diselimuti kabut dan hujan mulai turun, untung bawa jas hujan, jadi kami semua melanjutkan perjalanan. Sesampai di shelter 1, kami semua istirahat buat makan siang, dengan keadaan hujan yang sedikit mereda, kemudian melanjutkan perjalanan ke shelter 2 dan 3 yang rintangan lebih gila lagi.

Setiap pos dan shelter yang dilalui merupakan jalur pemanasan untuk pos dan shelter berikutnya, jalan yang licin dan basah sehabis hujan, jarak pandang hanya beberapa meter karena ketutup kabut, harus berayun-ayun dengan memegang dahan pohon dan akar karena jalan dibawah dilalui air sehabis hujan, menyelip dijalur yang sangat sempit, apalagi suhu semakin dingin. Saya tetap melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampai di shelter 3 tempat peristirahat di atas gunung, dan, saat saya sampai hari sudah menjelang magrib, sesampainya diatas kami disambut pelangi. Tapi karena saking dinginnya saya langsung masuk tenda, ganti baju yang lembab dengan baju yang kering dan berjaket tebal, baru kali itu merasakan dingin yang bener-bener menusuk tulang, dan kami pun beristirahan.

Finally...!

19 April 2014, Saat subuh tiba, kami mulai melanjutkan menuju puncak gunung Kerinci, mau melihat sunrise yang muncul dari celah-celah awan, dengan meraba-raba dalam kegelapan ditemani cahaya bulan dan senter, kami pun tiba di tugu Yuda, sebuah tugu di atas gunung kerinci. Dan tak berapa lama mendaki.. mendaki.. dan terus mendaki.. akhirnya sampai pada puncak tertinggi di Pulau Sumatera tersebut. Satu kata yang langsung dari mulut saya melihat indahnya sunrise, yakni “waaaaaauuuuoooow..!!!”.. saya menjerit dari atas kayak orang gila tapi semua pendaki lain juga menjerit karena puas berhasil mencapai puncak. Sungguh indah ciptaan tuhan, saya serasa berjalan diatas awan, terlihat juga bukit barisan. Amazing bangeeet petualangan ini. Dan yang paling penting ketika diatas adalah mengambil momen lewat kamera, harus diabadikan sebagai kenang-kenang dan bukti bahwa saya telah mengapai atap Sumatera, puncak Gunung Kerinci.

Pendakian Gunung Kerinci ini merupakan langkah awal saya untuk memulai sebuah perjalan, memberikan semangat baru lagi kepada saya, dan memberikan pengalaman yang luar biasa, mengajarkan bagaimana perjuangan menuju puncak, kebersamaan dengan orang-orang yang baru kita kenal, kearifan lokal, dan masih banyak lagi, itu membuat saya ingin dan ingin lagi terdampar ditempat-tempat lain seperti ini.

 berlanjut ke petualangan selanjutnya :D

You Might Also Like

6 komentar

  1. bikin minder deh sm petualangannya... :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Petualangan yang gak terlupakan :D mumpung masih mahasiswa hehehee jd kenangan yg bermakna banget hehehee

      Hapus
  2. Luar biasa :o bikin pengen banget :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks... heheheh.. ayo mulai niat dan menabung hehehe :D

      Hapus
  3. Daebak,.. keren banget,jadi kepengin naik gunung euy....:-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayo... berpetualanglah mumpung kita masih muda.. hahaha :D

      Hapus

Popular Posts

Google+

Twitter

Subscribe